aneka macam berasMungkin Anda belum sadar kalau leluhur kita ternyata tidak makan beras putih. Tadinya, Saya pun kaget setelah bertanya ke kakek-nenek saya, usia kakek saya saat meninggal di tahun 2010 adalah 105 tahun. kakek saya mengalami 4 zaman: zaman, kolonial, zaman pergerakan, zaman jepang, zaman kemerdekaan, beliau lahir 1905 di sebuah desa kalisapu di kota Slawi, Tegal.  Beras putih baru mulai populer pada zaman akhir penjajahan. Sebelumnya, semua orang makan beras berwarna. Umumnya coklat, atau merah. Dan sebagian lain beruntung dapat menikmati beras hitam.

Anda masih ingat apa yang Anda makan tadi pagi atau kemarin ? Saya berani bilang, setidaknya dalam seminggu ini, pasti pernah makan nasi. Eh, kelamaan ya seminggu, hehe. Sehari juga tiga kali makan nasi biasanya. Dan namanya nasi ya, nasi putih kan. Dari ujung dunia sebelah mana juga namanya nasi pasti putih kan. Kalau tidak putih, baru deh dapat embel-embel. Nasi kuning, coklat, merah, uduk, atau hitam.

Entah kenapa, beras putih mendadak digandrungi. Kata nenek saya sih, karena terkesan bersih. Semua yang putih-putih bagus katanya, waktu itu. Terigu putih, gula juga jadi putih. Dan seperti gengsi sosial kalau bisa makan beras putih. Orang kaya deh kalau bisa makan beras putih. Yaah, belum tahu kalau ternyata beras coklat lebih sehat ya. Beras hitam? Jangan tanya deh. Masih terlindung rapat dibalik dinding keraton.

Anda sudah tahu mungkin ya, kalau beras putih dan coklat sebenarnya sama saja. Maksud saya, dari tanaman yang sama. Hanya proses pengupasan kulitnya berbeda. Seperti kacang kulit dengan kacang kupas saja. Mudahnya, beras coklat minus kulit ari sama dengan beras putih. Zaman dulu belum ada mesin huller atau sosoh gabah, yang bisa mengupas kulit ari beras. Gabah ditumbuk dengan alu sampai lepas, makanya jangan heran alu dan lesung itu sudah ada sejak zaman sangkuriang atau zaman bromo-tengger ( zaman mataram hindu atau sebelumnya zaman salaka negara) lalu ditampi sehingga kulit gabahnya terbang kena angin. Sedangkan kulit arinya yang tipis, susah dibuang sehingga dimakan saja.

anatomi beras

anatomi beras

JeanNPuji-300x225Setelah ditemukan mesin giling padi (sebenarnya salah kaprah bahasa ya, karena kalau digiling seharusnya jadi tepung, lebih tepatnya mesin sosoh atau kupas), mulai lah popularitas beras putih. Karena prosesnya lebih rumit, perlu mesin besar, jadi gengsi kan makan beras putih. Beras mahal nih.

Walaupun, saya pernah baca kalau ada yang menjual beras putih tapi masih mengandung aleuron alias kulit ari. Kalau yang ini saya belum pernah lihat langsung, jadi saya kurang paham, hehe. Bisa jadi kulit arinya transparan ya. Mungkin.

beras_HITAM berbulirPadahal, kalau kita sadari, kulit arinya itu justru sangat berharga. Gizinya tinggi kan. Sementara di beras putihnya hanya tersisa karbohidrat saja. Coba di zaman itu orang-orang sudah paham hal ini. Bangkrut deh perusahaan yang bikin mesin giling, eh, mesin sosoh padi, hehe. Saya tidak tahu Anda pernah ketemu kakek nenek yang usianya di atas seratus tahun atau tidak. Tapi bagi saya, umur panjang mereka adalah hasil pola makan zaman dulu yang sehat. Makan beras coklat, gula merah, dan banyak sayuran sehat.

Ingin sehat dan panjang umur seperti mereka?

Beberapa tahun berjalan, beras hitam kini makin dikenal di rumahnya sendiri. Di tengah kelangkaan Beras Hitam, kami pun menemukan mutiara hitam ini di beberapa tempat yang sebelumnya tidak kami duga-duga. Memang beberapa tempat mengintroduksi dari tempat lain. Namun beberapa tempat memang memiliki benih lokalnya sendiri.

Berita-berita yang melegakan kami, mengingat di beberapa daerah mengalami kegagalan panen sehingga beberapa bulan terakhir pasokan si hitam cukup langka. Bahkan di daerah Yogyakarta yang cukup banyak petani beras hitam, mengumpulkan 1 ton beras hitam merupakan tugas yang cukup berat. Postur beras hitam yang tinggi cukup rentan roboh jika terkena angin kencang. Ditambah musim kering yang walaupun relatif singkat namun sangat kering, sehingga petani di daerah belum mulai menanam kembali.

Sang legenda beras tampaknya lebih memilih lokasi yang relatif dingin dan kurang baik pertumbuhannya di daerah pesisir yang panas. Pekalongan, yang kami kenal sebagai daerah pesisir utara Jawa, ternyata memiliki benih lokalnya sendiri. Walaupun memang ditanam di daerah pedalaman yang cukup dingin, bukan di pesisirnya. Demikian pula daerah Brebes yang terkenal akan bawangnya, ternyata juga menyimpan beras hitam. Cianjur yang merupakan sentra beras, ternyata juga memproduksi beras hitam.

padi hitam-2Beras hitam sejatinya kurang cocok dipupuk secara kimiawi karena kemungkinan bulir kosongnya meningkat. Namun hal tersebut tak menutup kemungkinan kalau-kalau beberapa petani masih memberikan urea kepada sawah beras hitamnya. Kami menyadari bahwa dahsyatnya mitos tentang pupuk kimia di kalangan petani masih sebegitu kuatnya. Istilah “kalau tidak dipupuk (kimiawi) ya tidak panen” masih cukup banyak dianut petani. Padahal beberapa tahun silam, sebelum kampanye swasembada pangan dikobarkan, petani justru sangat enggan memakainya walaupun sudah dibagikan secara gratis. Tak sampai dua generasi, mindset berubah 180 derajat.

pupukanPerubahan mendadak ini mungkin tidak terjadi, jika hanya mengandalkan kampanye urea gratis. Benih unggul-lah yang meyakinkan petani bahwa pupuk kimia itu sangat berarti bagi hidup mereka. Benih kerdil hasil rekayasa yang sangat rakus nutrisi. Benih mutan yang diseleksi hanya berdasarkan bobot hasil panen. Hasil panen memang meningkat tajam, waktu panen dipersingkat, swasembada pangan tercapai, dan berbagai penghargaan diterima. Banggakah? Dengan semua prestasi itu, apakah berbanding lurus dengan kesejahteraan petani? Dengan kelestarian alam? Bahkan gelar swasembada pun hanya bertahan seumur jagung.

Benih lokal adalah kekayaan nusantara. Benih lokal telah beradaptasi selama ribuan tahun dengan semua kondisi lingkungan mikro di tempatnya hidup. Jenis tanah, keasaman tanah, ketinggian, jenis hama, suhu rata-rata, unsur hara tanah, dan ribuan faktor lainnya. Kini samar saja terdengar dongeng legenda para sesepuh tentang panen 10 ton per hektar dari padi bulu koleksinya yang kini telah tiada. Kekayaan sendiri tak dihargai, malah mengagungkan si kerdil dari negeri yang tak subur.

Malai padi beras hitam varietas Aen Metan, Hare Kwa, dan Cibeusi (dari kiri ke kanan) serta beras dan gabah beras hitam Aen Metan.
Malai padi beras hitam varietas Aen Metan, Hare Kwa, dan Cibeusi (dari kiri ke
kanan) serta beras dan gabah beras hitam Aen Metan.

Kemunculan padi-padi benih lokal adalah penyegar dahaga. Tak peduli warnanya, benih lokal adalah kekayaan yang jauh lebih berharga. Lupakan saja keseragaman yang dipaksakan. Perbedaan adalah rahmat. Boleh hitam, merah, coklat, putih, atau warna lainnya asalkan tidak dipaksakan. Menghargai diri sendiri dan apa yang telah diberikan kepada kita tentu jauh lebih berkah ketimbang mengejar hijaunya rumput tetangga sebelah. Hujan emas di negeri sendiri lebih baik daripada hujan batu di negeri orang. Kenapa tidak? Negara kita pernah dijuluki Swarnadwipa. Pulau Emas. Tak perlu terlalu harfiah. Padi bunting menguning keemasan diterpa surya yang dihayati dengan syukur ikhlas kepada Sang Pencipta jauh lebih berharga daripada emas yang didapat dengan hati cemas.

Hewan lokal yang selama ini sering disebut “hama” pun lebih menghargai benih lokal. Serangga-serangga ini tak akan rakus dengan kawan lama mereka. Racun pestisida menjadi tak terlalu penting dan dapat dengan mudah digantikan rempah-rempah alami untuk mengusir hewan yang kadang berlebihan. Benih lokal juga menghargai dirinya sendiri, membangun ketahanan tubuh lebih kuat, dan memberikan nutrisi lebih banyak dalam setiap bulirnya. Memilih setiap unsur hara yang disediakan tanah secara optimal tanpa serakah menghisapnya untuk menghasilkan malai yang terlalu berat untuk disangga. Irama kerjasama yang indah ini dihayati betul oleh leluhur kita.

Leluhur kita tak perlu memikirkan berapa hasil panen tahun ini. Tak perlu hitungan njlimet tentang bagaimana target swasembada terpenuhi.  Bahkan tak perlu repot-repot membatasi jumlah keturunannya yang memang hanya titipan Sang Pencipta. Budaya gotong-royong, saling peka, saling berbagi dan nrimo akan mencukupi  segala kebutuhan mereka. Bukan rahasia bahwa hasil pertanian total dunia jika dihitung di atas kertas mampu mencukupi kebutuhan pangan seluruh penghuni kolong langit ini.

Ketika si kaya dengan mudahnya membuang butiran nasi yang sudah tak muat di perut buncitnya. Sementara si miskin tak puas dengan sesuap nasi yang sesungguhnya sudah mampu menegakkan punggungnya. Yang berlebihan tak mau berbagi. Yang miskin tak puas menerima yang sudah diberi. Tujuh bumi pun tak akan memberikan swasembada bagi manusia-manusia yang model begini.

Tidak ada yang salah dengan warna beras. Beras pecah kulit pun ada yang berwarna putih. Tidak selalu beras hitam lebih menyehatkan daripada beras putih. Tidak tanpa hati yang putih dan siap untuk sehat.

Tak ada yang salah dengan gagal panen. Tidak selalu gagal panen mendatangkan bencana. Tidak jika hati sudah lapang dan siap menerima berkah dari arah yang tak terduga.

Mari para petani , kita hargai apa yang kita punya.  Mari mencangkul lebih dalam di lubuk hati kita. menggali kearifan lokal yang mulai terbenam oleh lumpur keserakahan. Kita siangi semak prasangka buruk yang mulai menutupi bersih dan lapangnya hati kita. Yang Maha Memberi Rezeki punya cara tak terbatas untuk memakmurkan manusia-manusia yang ikhlas memakmurkan bumi-Nya. Hidup benih lokal! Hidup petani lokal!