aneka macam berasIndonesia  merupakan salah satu Negara yang memiliki keragaman sumber daya hayati yang cukup tinggi di dunia, termasuk tanaman sumber pangan lokal. Sumber pangan lokal Indonesia yang memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat pengganti beras putih yang setiap tahunya import dari luar negeri untuk mencukupi kebutuhan konsumsi dalam negeri. Pangan lokal tersebut belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia. Masyarakat yang berdomisili di daerah pegunungan umumnya mengonsumsi ubi jalar, talas, dan gembili serta beras hitam bukan ketan hitam, sedangkan yang tinggal di perkotaan memanfaatkan beras putih sebagai pangan pokok, yang dalam tingkat konsumsinya sangat banyak.

Jual beras HitamPadahal ada beras hitam dari padi hitam yang memiliki khasiat lebih baik dari beras putih dan beras merah yang telah beradaptasi ribuan tahun dengan baik dan dikonsumsi masyarakat dari zaman nenek moyang kita sampai sekarang dikalangan tertentu secara turun-temurun (keraton dan tetua adat). Kelebihan beras hitam adalah banyak mengandung serat, indeks Glikemik rendah dan dalam jumlah sedikit lebih mengenyangkan dibanding beras putih.Dengan demikian, komoditas tersebut perlu dikembangkan sebagai sumber pangan utama bagi masyarakatsehingga mengurangi ketergantungan pada pangan yang berasal dari beras putih yang selalu kita import. Selain digunakan sebagai sumber pangan utama dan untuk upacara adat, komoditas pangan lokal beras hitam juga telah dikembangkan menjadi produk olahan seperti kue kering yang dikelola dalam skala industri rumah tangga.

Formulasi produk makanan tradisional Yogyakarta berbasis beras hitam sudah diperoleh dengan penggunaan beras hitam berkisar 50-100%, yaitu kembang goyang, putu mayang, kue apem, putu ayu, kue semprong, nagasari, bolu kukus, dan kue lapis.Tulisan ini membahas pemanfaatan pangan lokal indonesia sebagai sumber pangan alternatif yang diharapkan dapat menjadi sumber pangan untukmendukung ketahanan pangan pada tingkat regional maupun nasional.

Meskipun jenis lauk-pauk, sayuran, dan buah yang dikonsumsi masyarakat sudah beragam, makanan pokok sumber karbohidrat masih berorientasi pada beras.

Padahal, pada masa sekolah dulu kita diajarkan bahwa makanan pokok orang Indonesia itu berbeda-beda, ada yang makan sagu, jagung, dan umbi-umbian. Namun kini dari Sabang sampai Merauke semua menyantap nasi putih.

Menurut Prof Made Astawan, ahli teknologi pangan dari IPB, konsumsi beras nasional saat ini 139 kg per kapita per tahun. Idealnya adalah 109 kg per kapita per tahun. “Itu sebabnya belakangan ini pemerintah aktif memberdayakan sumber karbohidrat lokal non-beras,” paparnya dalam acara media edukasi mengenai Wadah Makanan yang Aman, Kamis (8/7/2010) di Jakarta.

sanderm logoSelain beras dan terigu, menurut Made, ada lebih dari 30 jenis aneka pangan lokal sumber karbohidrat. Misalnya saja jagung, grontol, umbi-umbian seperti talas, singkong, gadung, gembili, pisang, huwi, sukun, dan masih banyak lagi.

Sementara itu, beras pun bukan cuma nasi putih, melainkan juga beras merah dan beras hitam, yang masih mengandung kulit ari sehingga kaya serat. Tingginya serat pangan pada umbi-umbian dan juga beras merah menyebabkan sumber pangan ini memiliki tingkat indeks glikemik (IG) lebih rendah sehingga dianjurkan untuk penderita diabetes.

Indeks glikemik merupakan indikator cepat atau lambatnya unsur karbohidrat dalam bahan pangan dalam meningkatkan kadar gula darah dalam tubuh. Bahan pangan dengan IG rendah lebih aman untuk penderita diabetes dan obesitas.

Sementara itu, dr Tan Shot Yen, praktisi energy healing, berpendapat bahwa kita juga bisa mendapatkan karbohidrat dari buah-buahan dan sayuran. Selain sumber energi, sayur dan buah juga mengandung serat dan tidak cepat membuat gula darah melonjak.

Salah satu jenis buah yang disarankan adalah alpukat. “Bukan hanya IG-nya lebih rendah karena mengandung asam lemak tak jenuh yang baik, melainkan juga punya nilai potasium dan antioksidan yang lebih tinggi,” kata penulis buku Saya Pilih Sehat dan Sembuh ini.

padi hitam-2Budi daya padi yang menghasilkan beras hitam, sebenarnya sama dengan budi daya padi biasa. Bedanya, padi beras hitam hanya bisa dibudidayakan di kawasan berhawa sejuk. Di DIY pun, beras hitam hanya dibudidayakan di Kabupaten Sleman, di lereng gunung Merapi. Sebab beras hitam dihasilkan oleh padi sub tropis , tapi beras hitam juga bisa dibudidayakan di perkotaan seperti di Bekasi dalam pot (inpapot). Budi daya beras hitam juga tidak harus di lahan sawah, Bahkan di dalam Pot. Cara budi daya sama dengan padi biasa, tanah diolah sampai menjadi lumpur, gabah (benih disemai), kemudian dicabut, dan ditanam satu per satu. Umur padi hitam sekitar lima bulan, sedikit lebih panjang dibanding padi biasa yang rata-rata empat bulan sudah panen. Namun sekarang juga sudah ada yang genjah dengan umur 120 hari/4 bulan sudah bisa panen. Deskripsi sifat-sifat tanaman padi beras hitam belum tercatat secara rinci. Kelompok Tani Sarana Makmur Seyegan di Sleman mela-porkan padi hitam varietas Compo Ireng mampu berproduksi 4,5 t/ha dengan umur panen 5 bulan.Varietas Toraja dengan umur 120 hari bisa memproduksi 9 ton/ha.

padi hitam-2Dalam upaya mengatasi kekurangan pangan dan gizi buruk yang dewasa ini makin meningkat, terutama di daerah berpengairan tadah hujan atau beriklim kering, penelitian varietas padi kaya nutrisi seperti padi beras hitam dan beras merah perlu digalakkan.

olahan beras hitamPenelitian sejak tahun 2003 menunjukkan, dari persilangan BP140F/Silu-gonggo//Oryza glaberrima///Silu¬gonggo yang warna berasnya merah, salah satu galurnya meng-hasilkan butir beras berwarna ungu kehitaman walaupun jumlahnya sedikit (±10%). Meskipun demikian, temuan ini perlu ditindaklanjuti dalam upaya mendapatkan padi beras hitam yang mantap, sebagai varietas atau tetua padi beras hitam berumur genjah. Galur hasil persilangan ini berumur genjah (90-100 hari), tinggi tanaman 90-100 cm dengan penampilan mirip tetuanya Silugonggo. Galur ini diharapkan dapat beradaptasi baik pada lahan kering beriklim kering seperti halnya tetuanya.

New Picture
wedang beras hitam, sereal beras hitam

Meskipun beras hitam asli Indonesia sekarang sudah menghilang dari para petani, tetapi Balai Penelitian Padi (Balitpa) Sukamandi, Jawa Barat, masih menyimpan benihnya. Selain Balitpa, yang mengoleksi varietas-varietas padi lokal kuno adalah International Rice Reasearch Institute (IRRI) di Los Banyor, Filipina. Masih banyak masyarakat di pedalaman yang secara mandiri masih menyimpan benih-benih lokal padi hitam, seperti varietas jawa melik, cempa ireng, tanur, gadug, beras wulung, Toraja dan Aen Metan, Hare Kwa (NTT) makanya Sekarang ini masyarakat mulai tertarik kembali ke menu-menu tradisional, yang mereka anggap lebih sehat dibanding makanan modern. Maka beras hitam pun kembali populer, dibudidayakan, dan dipasarkan dan dibudidayakan sebagai sumber ketahanan pangan lokal.

Logo Waras Farm OKWaras Farm, Cilegon