malai beras hitam
malai beras hitam

Beras hitam memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan. Selain kaya nutrisi,beras hitam mengandung antioksidan yang dapat mencegah kanker. Namun, pemanfaatan beras kaya nutrisi tersebut masih terbatas. Dengan manfaat yang demikian banyak, sudah selayaknya penelitian padi beras hitam mendapat perhatian disertai sosialisasi manfaatnya.Dan juga upaya pelestarianya karena merupakan salah satu kekayaan plasma nutfah yang tiada ternilai harganya.

Khasiat beras hitam cukup banyak diinformasikan dalamsitus internet. Beras hitam kaya akan nutrisi seperti asam amino,kalium, magnesium, kalsium, zat besi, serta pigmen antosianin melebihi kadar nutrisi pada beras merah.Beras hitam juga mengandung flavonoid lima kali lebih besar dibandingkan beras biasa. Flavonoid bermanfaat menekan diabetes,darah tinggi, anemia, pengerasanpembuluh nadi, dan asam urat. Warna ungu kehitaman beras hitam berasal dari sumber antosianin, suatu zat turunan polifenol yang berkemampuan sebagai antioksidan.

Antioksidan dapat mencegah berbagai penyakit seperti kanker, memperbaiki kerusakan sel hati (hepatitis dan sirosis), serta memperlambat penuaan. Kandungan tiamin (vitamin B1) pada beras bermanfaat mencegah penyakit beri-beri. Di Cina dan Korea, beras hitam telah lama dimanfaatkan dalam program kesehatan sebagai “pangan warna hitam”. Unsur- unsur mineral dalam beras hitam bermanfaat dalam menanggulangi gizi buruk.

Meskipun beras hitam memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan, masyarakat umumnya menyukai beras yang putih bening/transparan.Ini adalah hasil dari penjajahan zaman belanda bahwa yang putih itu lebih unggul, sehingga pada waktu itu diseragamkan penanaman padi putih padahal sejarah mencatat sejak zaman Sriwijaya hingga Mataram Islam kita bebasa menanam padi hitam, merah dan putih sesuai dengan karakter bangsa kita Bhinneka Tunggal Ika.

Beras merah atau hitam masih terbatas permintaannya. Namun, beberapa warung makan dengan sajian beras hitam atau merah mulai muncul. Beberapa pengusaha rumah makan di Subang dan Lembang (Jawa Barat), Surabaya dan Solo telah merintis menyajikan beras hitam dalam menu hidangan,meskipun masih terbatas sebagai\pelengkap makanan pokok.Bahkan di Jakarta beras hitam sudah diolah lebih jauh lagi menjadi sebuah minuman yang berkhasiat bagi kesehatan yaitu “ Wedang Beras Hitam”.Di jepang dan Chinna beras hitam sudah banyak dimanfaatkan sebgai cream dan sabun.Warna beras bervariasi, antaralain putih transparan atau putih bening, putih susu (pada ketan putih),coklat kemerahan, coklat muda,dan hitam keunguan. Warna beras diatur secara genetis. Beras merah memiliki gen yang memproduksi antosianin pada lapisan luar beras (aleuron), yang merupakan sumber warna merah atau ungu. Warna hitam pada beras terjadi karena antosianin yang terbentuk lebih banyak sehingga warna beras mendekati kehitaman.

Menurut sejarah, orang Cina kuno telah mengenal beras hitam sebagai beras terlarang (forbidden rice), tak boleh sembarang orang dapat memakannya, hanya kalangan istana (kaisar) dan orang tertentu saja yang boleh memakannya karena kaya nutrisi. Menurut penelitian di sana, beras hitam memiliki khasiat menyembuhkan berbagai penyakit. Beras hitam di Cina sekarang berfungsi sebagai obat dan bahan pangan.

Zhimin Xu, Associate Professor di Departemen Ilmu Pangan  Louisiana State University Agricultural Center di Baton Rouge, La., mengatakan satu sendok dedak beras hitam mengandung lebih banyak zat antioksidan anthocyanin dibandingkan dengan satu sendok blueberry tetapi dengan sedikit gula dan lebih banyak serat serta zat antioksidan lain (vitamin E). Hal ini berarti beras hitam dapat menjadi materi yang unik dan ekonomis untuk meningkatkan konsumsi antioksidan yang berguna bagi kesehatan.

Anthocyanin yang terkandung pada beras hitam dapat dimanfaatkan  untuk  melawan penyakit jantung, kanker, dan penyakit lainnya. Produsen makanan  berpotensi menggunakan bekatul, dedak,  atau ekstrak beras hitam untuk meningkatkan nilai kesehatan pada makanan  sereal buat sarapan pagi, minuman, kue, biskuit, dan makanan lainnya.

Kultivar Padi Beras Hitam

warta-32(1)10-format baru -KOREKSI IBU ENDANG-NET-Ciawi.pmd

Pada tahun 2008, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik

Pertanian (BB-Biogen), telah memperoleh dua plasma nutfah padi beras hitam dari Nusa Tenggara Timur, yaitu Aen Metan dan Hare Kwa. Keduanya merupakan padi gogo, tetapi dapat pula ditanam sebagai padi sawah dengan hasil yang cukup baik. Menurut petani, beras hitam ini biasa digunakan sebagai selingan makanan pokok jagung. Dibandingkan dengan padi beras hitam Cibeusi asal Subang Jawa Barat yang umurnya 6 bulan atau lebih, padi beras hitam Aen Metan dan Hare Kwa berumur cukup genjah. Kedua padi beras hitam tersebut sudah berbunga pada umur 82 hari dan dapat dipanen pada umur ±110 hari atau 3,5 bulan. Pada umur yang sama, padi hitam Cibeusi belum berbunga. Rasa nasi padi beras hitam asal NTT ini pun lebih enak atau pulen.Secara visual, gabah dan beras Cibeusi, Aen Metan, dan Hare Kwa berbeda (Tabel 1). Gabah beras hitam Cibeusi berbulu, sedangkandua lainnya tidak berbulu (cere).

Aleuron atau warna beras asal NTT lebih hitam dari Cibeusi. Kepekatan warna aleuron tampaknya dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Bila pengisian bulir kurang sempurna, warna aleuron menjadi lebih muda, dan bila bulir bernas maka warna aleuron lebih pekat.Perbedaan lainnya adalah bentuk beras Aen Metan agak gemuk/bulat, sedangkan beras Cibeusi dan Hare Kwa agak lonjong. Bobot gabah Aen Metan lebih besar dari Hare Kwa dengan bobot 1.000 butir masing-masing 34,5 dan 32 g, sedangkan Cibeusi ukuran gabahnya lebih kecil dengan bobot 1.000 butir 26 g. Warna dan bentuk beras padi hitam ini lebih terlihat bedanya pada fase perkecambahan.

Tinggi tanaman Aen Metan dan Hare Kwa 170-180 cm dan Cibeusi ±190 cm. Jumlah anakan relatif sama, antara 15-20. Panjang malai relatif tidak berbeda, namun malai Aen Metan lebih pendek dari Hare Kwa dan Cibeusi. Jumlah gabah per malai lebih banyak pada Cibeusi.Umur panen Aen Metan dan Hare Kwa ±120 hari dan Cibeusi 180 hari sejak tanam benih. Ciri lainnya adalah tipe tanaman Cibeusi agak serak, sedangkan Hare Kwa dan Aen Metan lebih kompak.

Di Asia beras hitam digunakan untuk hiasan makanan, mie, sushi, dan puding. Bagaimana dengan di Indonesia ? Beras hitam memiliki nama yang berbeda-beda tergantung di mana beras hitam tersebut berada. Beras hitam yang ada di Solo dikenal dengan nama ”beras wulung”. Menurut sejarahnya, dulunya beras wulung merupakan beras pilihan yang dulu hanya ditanam dan dipergunakan dalam keraton kasunanan Surakarta, khusus dikonsumsi di lingkungan para raja dan digunakan untuk jenis ritual tertentu. Di kawasan Cibeusi, Subang, Jawa Barat, beras hitam disebut dengan nama ”beras gadog”. Di Sleman, beras hitam dikenal dengan nama cempo ireng dan ada juga yang menyebut ”beras jlitheng”. Sedangkan di Bantul dikenal dengan ”beras melik”. Di Sulawesi varietas toraja dikenal dengan “rentepau”.

Berpeluang Dikembangkan

Ketiga aksesi plasma nutfah padi beras hitam ini diharapkan dapat menjadi tetua persilangan atau sumber gen antosianin tinggi untuk mendapatkan varietas unggul modern padi beras hitam. Padi beras hitam asal NTT lebih unggul dari Cibeusi asal Subang, terutama umur lebih genjah dan rasa nasi Aen Metan lebih enak dan lebih harum (aromatik).Saat ini belum banyak pemulia padi yang meneliti padi hitam untuk meningkatkan produksi beras. Arah perbaikan varietas lebih banyak pada hasil tinggi, rasa enak, dan warna beras yang bersih bening tanpa mengapur, karena karakter tersebut lebih disukai konsumen.

Beras Khao Dahk Mali asal Thailand dan Basmati dari India memiliki ciri-ciri tersebut. Demikian pula beras Cianjur (Pandan Wangi) dan Rojolele. Namun, kualitas gizi beras tersebut tidak lebih baik dari beras hitam maupun beras merah. Penelitian dan pengembangan padi beras hitam selayaknya mendapat perhatian yang lebih baik.

Dengan kandungan gizi yang tinggi,beras hitam dapat membantu menanggulangi gizi buruk pada masyarakat, terutama yang bermukim di daerah lahan kering beriklim kering. Sosialisasi beras hitam atau beras merah sebagai makanan pokok sangat penting bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia (Titin Suhartini dan Didi Suardi K.)

Balai Besar Penelitian dan

Pengembangan Bioteknologi dan

Sumberdaya Genetik Pertanian

Bogor 16111